Blogger Tricks

Rabu, 23 Oktober 2024

Aku Anakmu Juga, Bu

"Mari, mbak, ini ada grontol dan telo... Nostalgia zaman 65" sambut ibu-ibu KIPPER, Kiprah Perempuan, saat aku mendekat. Aku dicawiskan telo kukus dan grontol tadi kemudian diperkenalkan pada seorang ibu yang masih muda, kutaksir usianya sekitar 50-60 tahun.

"Saya generasi kedua, mbak. Papa saya dulu dihilangkan karena ada kedekatan dengan Sukarno. Mama saya juga kemudian dicari dan ditahan. Kami terpisah-pisah. Mama bersama adik kami yang nomor 7, masih dalam kandungan. Orang zaman dulu anaknya banyak, mbak".

Namanya Bu Lia, tentu dengan nama samaran sepanjang beliau berpindah-pindah dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lain. Sempat ia ikut pamannya yang dokter gigi sekaligus orang partai Golkar. Bu Lia sekolah perawat, berangan-angan membalas jasa paman yang menampungnya dengan membantu praktek supaya tidak perlu lagi membayar perawat lain. "SK sudah ada, tapi ketika diminta mengambil saya urung. Kalau ketahuan identitas saya, kasihan keluarga yang menampung saya".

Bu Lia menanyakan kota asalku lantas berkata "Saya kenal seorang penyanyi dari Salatiga. Dia datang saat konser Dialita di Jakarta". Rupanya Bu Lia tergabung juga dalam paduan suara Dialita. Ia menyanyikan sepenggal dari Lagu untuk Anakku, "Lihatlah pagi cerah indah, anakku... Lihatlah mawar merah merekah, sayangku..." tak sanggup melanjutkan ia, matanya berkaca-kaca. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar memandang wajahnya.

Dialita menyanyikan lagu-lagu yang ditulis para ibu di dalam sel. Ibu-ibu itu berteriak-teriak merindukan anak-anaknya. Mereka tak berbekal kertas apalagi pena. Lirik ditulis di atas baju menggunakan pensil yang sudah sangat pendek, yang mereka pungut dari tempat sampah. Kadang-kadang mereka mendapatkan kertas bungkus rokok sipir, dari tempat sampah yang sama, yang juga dipakai untuk menulis.

Bu Lia pamit ke kamar mandi sementara aku berkenalan dengan Bu Kadmi. "Ibu, panjenengan yuswa pinten?" tanyaku. "Kula 79" jawabnya dengan senyum merekah, ia melanjutkan "Terima kasih ya, mbak, sudah mau mendengarkan cerita kami, dipenjara 14 tahun tanpa diadili... Yang paling berat itu kekerasal seksual, mbak". Ibu dengan usia 79 tahun yang masih sangat lincah ini mengalaminya? Aku tak bisa bayangkan!

Siang itu ibu-ibu KIPPER diminta menyanyi. Sebelum menyanyikan Hari Rabu Sabtu, Bu Kadmi menyampaikan bahwa dulu ketika masih ditahan, setiap hari Rabu dan Sabtu biasanya mereka menerima kiriman makanan. Makanan yang disajikan kepadaku di awal, tapi dengan jumlah yang sedikit sekali. Beliau mengenang grontol yang diterima tak lebih dari 25 butir saja.


Menyanyikan Gugur Gunung, Bu Kadmi berlenggak-lenggok menari. Ia tampak bahagia sekali. Aku tak menahan senyumku, haru. Barangkali Tuhan telah menambahkan kekuatan lebih buat ibu-ibu ini menghadapi kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar