Penghitungan suara pemilihan ketua OSIS di sekolah Kaka biasanya dilaksanakan oleh bapak-ibu guru, tanpa ada transparansi bagi murid. Kali ini, Kaka menggerakkan teman-temannya untuk sepakat menghitung hasil pemilihan secara mandiri, sehingga semuanya jelas. Namun dengan menggunakan teknologi komputer, penghitungan suara tidak dilakukan secara manual. Kaka dan teman-teman hanya bisa menurut.
Aku paham, pengaruh yang Kaka bawa untuk teman-temannya memang sebesar itu. Aura menyenangkan, jiwa kepemimpinan, itu semua ada dalam dirinya. Namun sejak dini, budaya menyudutkan kaum minoritas memang sudah diterapkan. Padahal dia baru duduk di jenjang SMP!
"Yang terpilih selalu dari kaum mayoritas, heran..."
"Kalau begini terus, kapan kita mau jadi pemimpin?", serunya pada Bapak, Ibuk, dan aku.
"Nak, itu baru jabatan ketua OSIS. Saat kamu bertumbuh semakin dewasa lagi, kamu akan mengerti bahwa dunia ini memang begitu. Sabarlah. Itu artinya kamu akan diberikan tempat yang lain. Kamu tidak harus menjadi pemimpin di situ, tapi kamu akan berkarya di tempat lain"
Aku paham, Kaka pasti masih jengkel. Tapi aku yakin, di kemudian hari dia pasti mengerti dan bersyukur bahwa Tuhan bolehkan hal ini terjadi.
Selamat bertumbuh, adikku!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar