Blogger Tricks

Minggu, 15 Juli 2018

Ibu Tanpa Anak

Pasangan suami istri itu datang terlambat. Tidak jadi soal untuk acara anak-anak seperti ini.
Yang jadi soal adalah, ini acara anak-anak. Namun mereka tidak membawa anaknya.
Tentu saja.

Beberapa bulan yang lalu, aku tidak ingat tepatnya, anak mereka meninggal.
Sehari setelahnya, duka itu tentu belum surut. Namun sepasang suami istri itu mendatangi rumahku untuk berterimakasih atas pelayanan bapakku dalam pemakaman dan kebaktian penghiburan, yang sebenarnya tak perlulah ada ucapan terima kasih itu sebab memang sudah tugasnya melayani.
Kedatangan mereka kembali tak jadi soal. Yang jadi soal ialah, anak-anak sekolah minggu sedang berlatih menyanyi dan menari di depan rumahku. Sayatan di hati Sang Ibu tampak jelas dari raut wajahnya. Aku bisa membayangkan ia menggumam dalam hati, bahwa seharusnya putranya bisa ikut menyanyi dan menari bersama anak-anak itu.

Waktu membuat kita makin bijak. Meski terlambat datang, ibu muda itu tak terlambat untuk menggendong anak-anak dan melihat mereka berlarian dengan riang, meski puluhan anak itu bukan anak kandungnya. Ada lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada ditangisi. Dan ibu itu memilih yang pertama. Senyum di wajahnya menandakan adanya ketangguhan dan ketulusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar