"Saya dulu sebenarnya sudah keterima elektro UKSW, sudah senang. Tapi karena kedokterannya keterima, dan ibu saya suruh ambil, yaudah," katanya sambil memeriksa anak elektro UKSW itu. "Saya itu sebenarnya mau teknik sipil. Bapak saya menyuruh arsitek, saya tolak, saya tidak bisa menggambar. Ibu saya menyuruh kedokteran. Jadi kedokteran pilihan pertama, teknik sipil kedua,"
"Waktu itu keadaannya, ibu sedang kanker payudara dan saya keterima kedokteran. Padahal saya nggak suka, tapi ibu suruh ambil di keadaan seperti itu, jadi saya nurut,"
"Saya ini lho, penyakit dalam dapat D tidak saya ulang! Karena saya nggak suka!"
"Tapi ya bergulir saja, orang dulu itu bisanya manut,"
"Bagus itu dek, elektro, tapi kalau hatimu masih di sana, ya kamu berjuang untuk tahun depan. Siapa tau Tuhan mau kamu di sana tahun depan. Tapi kalau memang di sini, ya itu juga terbaik,"
"Buktinya setelah saya koas, begini, begitu, saya belajar mencintai apa yang ada sama saya sekarang ini"
Selasa, 18 September 2018
Minggu, 15 Juli 2018
Ibu Tanpa Anak
Pasangan suami istri itu datang terlambat. Tidak jadi soal untuk acara anak-anak seperti ini.
Yang jadi soal adalah, ini acara anak-anak. Namun mereka tidak membawa anaknya.
Tentu saja.
Beberapa bulan yang lalu, aku tidak ingat tepatnya, anak mereka meninggal.
Sehari setelahnya, duka itu tentu belum surut. Namun sepasang suami istri itu mendatangi rumahku untuk berterimakasih atas pelayanan bapakku dalam pemakaman dan kebaktian penghiburan, yang sebenarnya tak perlulah ada ucapan terima kasih itu sebab memang sudah tugasnya melayani.
Kedatangan mereka kembali tak jadi soal. Yang jadi soal ialah, anak-anak sekolah minggu sedang berlatih menyanyi dan menari di depan rumahku. Sayatan di hati Sang Ibu tampak jelas dari raut wajahnya. Aku bisa membayangkan ia menggumam dalam hati, bahwa seharusnya putranya bisa ikut menyanyi dan menari bersama anak-anak itu.
Waktu membuat kita makin bijak. Meski terlambat datang, ibu muda itu tak terlambat untuk menggendong anak-anak dan melihat mereka berlarian dengan riang, meski puluhan anak itu bukan anak kandungnya. Ada lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada ditangisi. Dan ibu itu memilih yang pertama. Senyum di wajahnya menandakan adanya ketangguhan dan ketulusan.
Yang jadi soal adalah, ini acara anak-anak. Namun mereka tidak membawa anaknya.
Tentu saja.
Beberapa bulan yang lalu, aku tidak ingat tepatnya, anak mereka meninggal.
Sehari setelahnya, duka itu tentu belum surut. Namun sepasang suami istri itu mendatangi rumahku untuk berterimakasih atas pelayanan bapakku dalam pemakaman dan kebaktian penghiburan, yang sebenarnya tak perlulah ada ucapan terima kasih itu sebab memang sudah tugasnya melayani.
Kedatangan mereka kembali tak jadi soal. Yang jadi soal ialah, anak-anak sekolah minggu sedang berlatih menyanyi dan menari di depan rumahku. Sayatan di hati Sang Ibu tampak jelas dari raut wajahnya. Aku bisa membayangkan ia menggumam dalam hati, bahwa seharusnya putranya bisa ikut menyanyi dan menari bersama anak-anak itu.
Waktu membuat kita makin bijak. Meski terlambat datang, ibu muda itu tak terlambat untuk menggendong anak-anak dan melihat mereka berlarian dengan riang, meski puluhan anak itu bukan anak kandungnya. Ada lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada ditangisi. Dan ibu itu memilih yang pertama. Senyum di wajahnya menandakan adanya ketangguhan dan ketulusan.
Minggu, 04 Maret 2018
Sepasang Telinga dan Satu Mulut
Aku merindukan sepasang telinga dan satu mulut untukku.
Sepasang telinga yang mendengar semua kisah senang dan sedihku.
Satu mulut yang mendukung dan menegurku dalam kata-kata.
Sepasang telinga yang mendengar semua kisah senang dan sedihku.
Satu mulut yang mendukung dan menegurku dalam kata-kata.
Senin, 01 Januari 2018
Langganan:
Komentar (Atom)

